Agroindustry Hope
Bulir-bulir utuh itu
di mulai dari Mayangkawis
Oleh : Zaenal Fanani,SPi,MP
Pagi itu berjalan seperti
biasanya, saya duduk dibelakang meja besar bekas meja kabid sarana pertanian yang
tidak digunakan lagi, kursi ini ukurannya juga besar, lebih besar dari lainnya,
saya ambil dari gudang, bekas kursi sekretaris yang rusak lalu saya kanibal
dengan kursi lain yang kerusakannya berbeda, untuk urusan seperti ini memang
sebagaian dari keahlianku, ….hehehehe. “Pak Zaenal !” seru pak Wisnu Kabidku (yang
untuk menghadapinya perlu persiapan khusus), “ya pak, wonten dawuh,” sahut ku.
“Ayo pak ikut ke Anglingdarma, ada paparan tentang Agroindustri, saya maju
dengan agak ragu, “Baik pak wisnu saya nanti tak menyusul”, sahutku.
Diruangan ini, sangat penuh
sesak, semua SKPD hadir dengan tim handalnya masing-masing, mulai dari Kapala
Bappeda sampai Camat, semua hadir, terlihat Kepala SKPD duduk di bangku depan
diikuti dengan timnya, begitu juga dengan Dinas Pertanian, aku mengambil duduk
paling belakang di samping AC, sebelumnya aku memberitahu kehadiran saya kepada
pak Wisnu. Setelah sejenak menunggu, Bapak Bupati Datang, acara segera di
mulai, seperti biasanya bapak bupati memberikan materi, yang tidak biasa adalah
adanya papan tulis di depan, maka
pertemuan itu bernuansa perkuliahan. Materi itu dimulai dari gambaran ekosistem
masyarakat Bojonegoro, hak masyarakat dan tanggungjawab pemerintah, paparan
konsep pemerintahan bapak bupati ini terasa baru bagi saya, yang selama ini
berpikir bahwa dengan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan membuat
regulasi yang baik terhadap masyarakat, itu sudah cukup, nanti masyarakat akan
berkembang dengan sendirinya. Ternyata bapak bupati lain, pemerintah bukan
hanya harus bersih dan membuat regulasi yang baik, tapi harus terus berinovasi,
ikut terjun dalam kehidupan masyarakat dan merasakannya secara langsung. Teori
pemerintahan yang saya pahami tadi kata bapak bupati adalah “Teori Pembiaran”,
dan saya berpikir teori bapak bupati adalah teori “Total Government” (saya
ambil dari kata Total Football).
Materi itu terus berlanjut
kepada intinya, Agroindustri, bahwa bojonegoro tahun-tahun kedepan akan sangat
konsen dengan agroindustri, apa, bagaimana, dimana, (meskipun setahuku belum
menjawab oleh siapa dan kapan ?) dengan gaya yang khas bapak bupati memberikan
materi, begitu semangat, kata-katanya sangat menarik, dan penuh dengan nilai (qawlan tsaqiilaa), badanku mulai panas,
panas itu menjalar ketelinga, kepala dan mukaku, “ada apa ini?” pikirku, apa
akan terkena flu atau terkena deman (fever), deman agroindustri yang virusnya
adalah kang yoto!
Sore itu sekitar jam empat saya
pulang dari ruang anglingdarma, setelah sholat ashar berjamaah, saya mencoba
untuk istirahat sebentar tapi tidak bisa, badanku juga masih terasa panas, maka
saya coba membuka Ijazah Magister Teknologi Pertanianku, aku lihat apa yang
selama enam tahun lalu sudah saya pelajari, Pengelolaan Sistem Industrin
Pangan, Perencanaan dan Pengembangan Produk, Rekayasa Pengolahan, Riset
Operasional, Teknik Optimasi Proses, Sistem Poduksi, Manajemen Teknologi,
Manajemen Mutu, Pencemaran Industri dan Pengendalian Lingkungan, Ilmu Bahan
Industri Pertanian, Bioteknologi Industri dan Perancangan Pabrik, saya buka
almari dengan buku-buku yang tertata rapi, sambil mengingat-ingat apa saja
materi didalamnya, juga ada Tesis dengan Judul : Perancangan Unit Pengolahan
Extrudat Jagung Skala Industri Menengah di Kabupaten Bojonegoro, yang semuanya selama
enam tahun ilmu itu tidak pernah terpakai.
Pagi itu di tahun 2012, aku mengunjungi
gapoktan binaan, yang akan kami jadikan kelinci percobaan dalam revitalisasi
penggilingan padi, namanya pak Lahuri dari Mayangkawis, anggota gapoktan ini
mempunyai penggilingan padi sama seperti penggilingan padi lainnya:
konfigurasinya hanya pecah kulit, polisher dan ayakan buatan sendiri, usianya
juga sudah 20 tahun. Penggilingan tua seperti ini ada sekitar 1400 di seluruh
Bojonegoro dengan rendemen sekitar 49%
dan beras yang dihasilkan adalah beras kualitas rendah sampai medium. Beras-beras
itu selama ini dijual di Bojonegoro dikirim ke Lamongan atau dikirim ke Tuban,
yang menarik mengapa di kirim ke Lamongan dan Tuban?, katanya beras-beras itu
diproses kembali untuk menjadi beras kualitas super.
Siang itu saya menghadap pak
Wisnu untuk menyampaikan rencana revitalisasi penggilingan padi dari dana APBN
Th. 2012, kebetulan kita dapat 1 paket. Saya sampaikan “bagaimana pak kalau
kita mencoba merevitalisasi penggilingan padi itu bukan hanya mengganti alat
penggilingan padi yang usianya sudah tua, atau memperbaiki yang rusak, tapi
merubah penggilingan padi kita yang selama ini mengolah “Gabah” menjadi
penggilingan padi yang mengolah “Beras”.
Pak Wisnu langsung menyetujui dan pada saat itu juga minta diantar ke
Tuban.
Sore itu sudah jam 15.00,
semuanya sudah pulang tinggal penjaga
kantor yang kelihatan sering berjalan bolak-balik di hadapan kami, mungkin dia
berharap supaya kami secepatnya meninggalkan kantor. Berbekal nama dan alamat pengusaha
pengolahan beras di Rengel Tuban, kami nekat mencarinya, dalam perjalanan, saya
katakan kepada pak Wisnu bagaimana kalau kita tidak boleh masuk, pak Wisnu
bilang kita coba dulu saja. Setelah sekitar satu jam perjalanan dengan tanya
sana-sini kita akhirnya bisa menemukan tempatnya, nama Pengusahnya itu adalah
Bapak Riadi desa Maibit kecamatan Rengel, ternyata benar perusahaannya sangat
tertutup, tidak semua boleh masuk, termasuk aku dengan pak wisnu. Aku sudah
menyerah tapi pak Wisnu belum, “gini saja kita ke Tuban cari teman saya untuk
mengantar masuk, mungkin kalau petugas dari Tuban boleh masuk”.
Mobil berjalan meninggalkan
lokasi, yang dituju adalah kantor perhutani di kecamatan Rengel, yang kata pak
Wisnu punya teman disitu, saya tanyakan siapa namanya? “Saya lupa” katanya,
baik saya terus menyetir sambil memberi kesempatan pak Wisnu mengingatnya,
setelah sampai kantor perhutani ternyata pak Wisnu juga belum bisa mengingat
namanya, kami agak kikuk, tapi Alhamdulillah petugas kantor tersebut berkenan
mengantar ke pak Riadi.
Di Perusahaan itu pantas ditutup
dengan pintu tinggi, didalamnya memang terpasang konfigurasi mesin-mesin
pengolahan beras yang berkelas, sambil mengagumi desain pengolahan beras ini,
kami diam-diam amati satu-satu mulai nama mesin-mesin dan tipenya, pembuatnya,
system tata letaknya dan mutul beras yang dihasilkan, pak Wisnu bertanya “pak
kita sampai pensiun kira-kira bisa ngak punya seperti ini?” saya diam saja, karena
saya memang tidak bisa menjawabnya.
Setelah semua alat-alat
terpasang dengan baik, (yang sempat jadi temuan BPK karena sampai bulan
Desember belum terpasang, dan ternyata untuk memasang mesin-mesin pengolahan
beras ini tidak semua bengkel bisa bahkan perusahaan pembuatnya, perlu seorang
ahli yang jadwalnya bisa nunggu tiga sampai lima bulan) uji tanpa beban
berjalan lancar, lalu diuji dengan beban 50% berjalan dengan lancar dan
sekarang Penggilingan padi itu sudah menjadi pengolahan beras berkelas pertama
di Bojonegoro, dengan kapasitas 2 ton perjam, dengan hasil beras kualitas
super.
Hari ini adalah senin 13 Januari
2013, seperti undangan yang kami sampaikan para gapoktan berkumpul di Dinas,
setelah kami sampaikan program APBN yang berhubungan dengan Revitalisasi
Penggilingan Padi secara panjang lebar, kami ajak para calon penerima program
ini ke penggilingan padi di Mayangkawis, kami tunjukkan bahwa program
revitalisasi seperti inilah kami inginkan, “Sebuah Pengolahan Beras bukan
Pengolahan gabah” yang bersedia kita akan proses selanjutnya dan yang tidak
akan kita ganti dengan gapoktan lainnya. Program ini memang kami desain agak
memaksa, karena yang dibutuhkan Bojonegoro kedepan adalah Pengolahan Beras
alasannya adalah : memberikan nilai
tambah lebih besar, mencegah penjualan beras kualitas rendah ke daerah lain dan
setelah diproses di kembalikan lagi ke Bojonegoro (merek Terate-nya pak Riadi),
para gapoktan mengangguk dan kelihatan menyetujui.
Penggilingan padi di Mayangkawis
ini cukup lumayan, dengan kapasitas per jamnya 2 ton, dengan beda rendemen 5%
antara beras biasa dengan beras kepala, dan selisih harga Rp. 900,- per kg-nya,
maka dalam satu hari (8 jam kerja) akan di dapat nilai tambah sebesar Rp. 1.440.000,-
atau dalam satu tahun (360 hari) akan ada tambahan sebesar Rp. 518.400.000,-
fantastis. Untuk tahun 2013 Bojonegoro dapat 4 paket program yang sama (4x
lipat dari tahun 2012), bila program ini berhasil maka, akan ada 5 penggilingan
padi yang sama di kecamatan yang berbeda dan itu berarti akan ada tambahan
pendapatan sebesar Rp. 2.592.000.000,- per tahun.
Bojonegoro memang lumbung Padi
Jawa Timur produksinya 800.500 ton GKG (Gabah Kering Giling) atau 930.814 GKP
(Gabah Kering Panen), kesungguhan mengelolanya akan memberikan value added yang besar dan pengolahan
beras ini di mulai dari Mayangkawis, benar … bulir-bulir utuh itu memang di
mulai dari sana, dan kami berharap daerah-daerah akan menyusul. Semoga
Penulis
adalah :
Kasi
yang menangani Pascapanen, Pengolahan, stadarisasi mutu dan Pemasaran Hasil
Pertanian.
