Selasa, 15 Januari 2013

Enterpreneur Society



Agroindustry Hope

Bulir-bulir utuh itu di mulai dari Mayangkawis

Oleh : Zaenal Fanani,SPi,MP

                Pagi itu berjalan seperti biasanya, saya duduk dibelakang meja besar bekas meja kabid sarana pertanian yang tidak digunakan lagi, kursi ini ukurannya juga besar, lebih besar dari lainnya, saya ambil dari gudang, bekas kursi sekretaris yang rusak lalu saya kanibal dengan kursi lain yang kerusakannya berbeda, untuk urusan seperti ini memang sebagaian dari keahlianku, ….hehehehe.  “Pak Zaenal !” seru pak Wisnu Kabidku (yang untuk menghadapinya perlu persiapan khusus), “ya pak, wonten dawuh,” sahut ku. “Ayo pak ikut ke Anglingdarma, ada paparan tentang Agroindustri, saya maju dengan agak ragu, “Baik pak wisnu saya nanti tak menyusul”, sahutku.
                Diruangan ini, sangat penuh sesak, semua SKPD hadir dengan tim handalnya masing-masing, mulai dari Kapala Bappeda sampai Camat, semua hadir, terlihat Kepala SKPD duduk di bangku depan diikuti dengan timnya, begitu juga dengan Dinas Pertanian, aku mengambil duduk paling belakang di samping AC, sebelumnya aku memberitahu kehadiran saya kepada pak Wisnu. Setelah sejenak menunggu, Bapak Bupati Datang, acara segera di mulai, seperti biasanya bapak bupati memberikan materi, yang tidak biasa adalah adanya  papan tulis di depan, maka pertemuan itu bernuansa perkuliahan. Materi itu dimulai dari gambaran ekosistem masyarakat Bojonegoro, hak masyarakat dan tanggungjawab pemerintah, paparan konsep pemerintahan bapak bupati ini terasa baru bagi saya, yang selama ini berpikir bahwa dengan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan membuat regulasi yang baik terhadap masyarakat, itu sudah cukup, nanti masyarakat akan berkembang dengan sendirinya. Ternyata bapak bupati lain, pemerintah bukan hanya harus bersih dan membuat regulasi yang baik, tapi harus terus berinovasi, ikut terjun dalam kehidupan masyarakat dan merasakannya secara langsung. Teori pemerintahan yang saya pahami tadi kata bapak bupati adalah “Teori Pembiaran”, dan saya berpikir teori bapak bupati adalah teori “Total Government” (saya ambil dari kata Total Football).
                Materi itu terus berlanjut kepada intinya, Agroindustri, bahwa bojonegoro tahun-tahun kedepan akan sangat konsen dengan agroindustri, apa, bagaimana, dimana, (meskipun setahuku belum menjawab oleh siapa dan kapan ?) dengan gaya yang khas bapak bupati memberikan materi, begitu semangat, kata-katanya sangat menarik, dan penuh dengan nilai (qawlan tsaqiilaa), badanku mulai panas, panas itu menjalar ketelinga, kepala dan mukaku, “ada apa ini?” pikirku, apa akan terkena flu atau terkena deman (fever), deman agroindustri yang virusnya adalah kang yoto!
                Sore itu sekitar jam empat saya pulang dari ruang anglingdarma, setelah sholat ashar berjamaah, saya mencoba untuk istirahat sebentar tapi tidak bisa, badanku juga masih terasa panas, maka saya coba membuka Ijazah Magister Teknologi Pertanianku, aku lihat apa yang selama enam tahun lalu sudah saya pelajari, Pengelolaan Sistem Industrin Pangan, Perencanaan dan Pengembangan Produk, Rekayasa Pengolahan, Riset Operasional, Teknik Optimasi Proses, Sistem Poduksi, Manajemen Teknologi, Manajemen Mutu, Pencemaran Industri dan Pengendalian Lingkungan, Ilmu Bahan Industri Pertanian, Bioteknologi Industri dan Perancangan Pabrik, saya buka almari dengan buku-buku yang tertata rapi, sambil mengingat-ingat apa saja materi didalamnya, juga ada Tesis dengan Judul : Perancangan Unit Pengolahan Extrudat Jagung Skala Industri Menengah di Kabupaten Bojonegoro, yang semuanya selama enam tahun ilmu itu tidak pernah terpakai.
                Pagi itu di tahun 2012, aku mengunjungi gapoktan binaan, yang akan kami jadikan kelinci percobaan dalam revitalisasi penggilingan padi, namanya pak Lahuri dari Mayangkawis, anggota gapoktan ini mempunyai penggilingan padi sama seperti penggilingan padi lainnya: konfigurasinya hanya pecah kulit, polisher dan ayakan buatan sendiri, usianya juga sudah 20 tahun. Penggilingan tua seperti ini ada sekitar 1400 di seluruh Bojonegoro dengan rendemen sekitar  49% dan beras yang dihasilkan adalah beras kualitas rendah sampai medium. Beras-beras itu selama ini dijual di Bojonegoro dikirim ke Lamongan atau dikirim ke Tuban, yang menarik mengapa di kirim ke Lamongan dan Tuban?, katanya beras-beras itu diproses kembali untuk menjadi beras kualitas super.
                Siang itu saya menghadap pak Wisnu untuk menyampaikan rencana revitalisasi penggilingan padi dari dana APBN Th. 2012, kebetulan kita dapat 1 paket. Saya sampaikan “bagaimana pak kalau kita mencoba merevitalisasi penggilingan padi itu bukan hanya mengganti alat penggilingan padi yang usianya sudah tua, atau memperbaiki yang rusak, tapi merubah penggilingan padi kita yang selama ini mengolah “Gabah” menjadi penggilingan padi yang mengolah “Beras”.  Pak Wisnu langsung menyetujui dan pada saat itu juga minta diantar ke Tuban.
                Sore itu sudah jam 15.00, semuanya sudah pulang  tinggal penjaga kantor yang kelihatan sering berjalan bolak-balik di hadapan kami, mungkin dia berharap supaya kami secepatnya meninggalkan kantor. Berbekal nama dan alamat pengusaha pengolahan beras di Rengel Tuban, kami nekat mencarinya, dalam perjalanan, saya katakan kepada pak Wisnu bagaimana kalau kita tidak boleh masuk, pak Wisnu bilang kita coba dulu saja. Setelah sekitar satu jam perjalanan dengan tanya sana-sini kita akhirnya bisa menemukan tempatnya, nama Pengusahnya itu adalah Bapak Riadi desa Maibit kecamatan Rengel, ternyata benar perusahaannya sangat tertutup, tidak semua boleh masuk, termasuk aku dengan pak wisnu. Aku sudah menyerah tapi pak Wisnu belum, “gini saja kita ke Tuban cari teman saya untuk mengantar masuk, mungkin kalau petugas dari Tuban boleh masuk”.
                Mobil berjalan meninggalkan lokasi, yang dituju adalah kantor perhutani di kecamatan Rengel, yang kata pak Wisnu punya teman disitu, saya tanyakan siapa namanya? “Saya lupa” katanya, baik saya terus menyetir sambil memberi kesempatan pak Wisnu mengingatnya, setelah sampai kantor perhutani ternyata pak Wisnu juga belum bisa mengingat namanya, kami agak kikuk, tapi Alhamdulillah petugas kantor tersebut berkenan mengantar ke pak Riadi.
                Di Perusahaan itu pantas ditutup dengan pintu tinggi, didalamnya memang terpasang konfigurasi mesin-mesin pengolahan beras yang berkelas, sambil mengagumi desain pengolahan beras ini, kami diam-diam amati satu-satu mulai nama mesin-mesin dan tipenya, pembuatnya, system tata letaknya dan mutul beras yang dihasilkan, pak Wisnu bertanya “pak kita sampai pensiun kira-kira bisa ngak punya seperti ini?” saya diam saja, karena saya memang tidak bisa menjawabnya.
                Setelah semua alat-alat terpasang dengan baik, (yang sempat jadi temuan BPK karena sampai bulan Desember belum terpasang, dan ternyata untuk memasang mesin-mesin pengolahan beras ini tidak semua bengkel bisa bahkan perusahaan pembuatnya, perlu seorang ahli yang jadwalnya bisa nunggu tiga sampai lima bulan) uji tanpa beban berjalan lancar, lalu diuji dengan beban 50% berjalan dengan lancar dan sekarang Penggilingan padi itu sudah menjadi pengolahan beras berkelas pertama di Bojonegoro, dengan kapasitas 2 ton perjam, dengan hasil beras kualitas super.
                Hari ini adalah senin 13 Januari 2013, seperti undangan yang kami sampaikan para gapoktan berkumpul di Dinas, setelah kami sampaikan program APBN yang berhubungan dengan Revitalisasi Penggilingan Padi secara panjang lebar, kami ajak para calon penerima program ini ke penggilingan padi di Mayangkawis, kami tunjukkan bahwa program revitalisasi seperti inilah kami inginkan, “Sebuah Pengolahan Beras bukan Pengolahan gabah” yang bersedia kita akan proses selanjutnya dan yang tidak akan kita ganti dengan gapoktan lainnya. Program ini memang kami desain agak memaksa, karena yang dibutuhkan Bojonegoro kedepan adalah Pengolahan Beras alasannya adalah  : memberikan nilai tambah lebih besar, mencegah penjualan beras kualitas rendah ke daerah lain dan setelah diproses di kembalikan lagi ke Bojonegoro (merek Terate-nya pak Riadi), para gapoktan mengangguk dan kelihatan menyetujui.
                Penggilingan padi di Mayangkawis ini cukup lumayan, dengan kapasitas per jamnya 2 ton, dengan beda rendemen 5% antara beras biasa dengan beras kepala, dan selisih harga Rp. 900,- per kg-nya, maka dalam satu hari (8 jam kerja) akan di dapat nilai tambah sebesar Rp. 1.440.000,- atau dalam satu tahun (360 hari) akan ada tambahan sebesar Rp. 518.400.000,- fantastis. Untuk tahun 2013 Bojonegoro dapat 4 paket program yang sama (4x lipat dari tahun 2012), bila program ini berhasil maka, akan ada 5 penggilingan padi yang sama di kecamatan yang berbeda dan itu berarti akan ada tambahan pendapatan sebesar Rp. 2.592.000.000,- per tahun.
                Bojonegoro memang lumbung Padi Jawa Timur produksinya 800.500 ton GKG (Gabah Kering Giling) atau 930.814 GKP (Gabah Kering Panen), kesungguhan mengelolanya akan memberikan value added yang besar dan pengolahan beras ini di mulai dari Mayangkawis, benar … bulir-bulir utuh itu memang di mulai dari sana, dan kami berharap daerah-daerah akan menyusul. Semoga

Penulis adalah :
Kasi yang menangani Pascapanen, Pengolahan, stadarisasi mutu dan Pemasaran Hasil Pertanian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar